Senin, 05 Januari 2015

Sejarah Jurnalistik Dunia & Indonesia






Sejarah Perkembangan Jurnalistik di Dunia

    Jurnalistik muncul pada zaman Romawi kuno, yang terdapat pada berbagai literatur sejarah jurnalistik pada zaman kekaisaran Julius Caesar (100-44SM) senantiasa mengacu pada “Acta Diurna”.

    Acta Diurna merupakan tempat sumber informasi seperti papan pengumuman, dan diyakini sebagai hasil produk jurnalistik (media massa, surat kabar) pertama di dunia.

Oleh karena itu Julius Caesar pun di anggap sebagai “Bapak Pers Dunia”.


     Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada Acta Diurna tersebut. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Berita di Acta Diurna kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan Acta Diurna itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.

      Dari kata Acta Diurna inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).

     Dalam sejarah Islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004), cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan. Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.



      Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai kantor berita pertama di dunia.

      Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis-menulis makin meluas pada masa peradaban Mesir, ketika masyarakatnya menemukan tehnik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang bernama “Phapyrus”.

       Pada abad 8 M., tepatnya tahun 911 M, di Cina muncul surat kabar cetak pertama dengan nama “King Pau” atau Tching-pao, artinya “Kabar dari Istana”. Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara teratur seminggu sekali.

   Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak ditemukan oleh Johan Guttenberg pada 1450. Koran cetakan yang berbentuk seperti sekarang ini muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg, Jerman. Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di suratkabar adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke Benua Amerika pada 1493.

     Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti nama menjadi London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi editornya untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah “Newspaper”.















SEPUTAR PULITZER


     Pada Abad ke-18, jurnalisme lebih merupakan bisnis dan alat politik ketimbang sebuah profesi. Komentar-komentar tentang politik, misalnya, sudah bermunculan pada masa ini. Demikian pula ketrampilan desain/perwajahan mulai berkembang dengan kian majunya teknik percetakan. Pada abad ini juga perkembangan jurnalisme mulai diwarnai perjuangan panjang kebebasan pers antara wartawan dan penguasa. Pers Amerika dan Eropa berhasil menyingkirkan batu-batu sandungan sensorsip pada akhir Abad ke-18 dan memasuki era jurnalisme modern seperti yang kita kenal sekarang. Perceraian antara jurnalisme dan politik terjadi pada sekitar 1825-an, sehingga wajah jurnalisme sendiri menjadi lebih jelas: independen dan berwibawa. Sejumlah jurnalis yang muncul pada abad itu bahkan lebih berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh politik atau pemerintahan. Jadilah jurnalisme sebagai bentuk profesi yang mandiri dan cabang bisnis baru.

    Pada 1872, Pulitzer membeli surat kabar Post seharga USD 3.000 dan setahun kemudian ia menjual surat kabar itu dengan harga berlipat. Pada 1879, ia membeli surat kabar St. Louis Dispatch dan St. Louis Post yang kemudian digabungkannya menjadi satu dengan nama St. Louis Post-Dispatch yang kemudian dirubah namanya lagi menjadi koran St. Louis saja. Di masa inilah, Pulitzer meraih kesuksesan besar dan berhasil mengumpulkan harta kekayaannya.

      Tahun 1882, Pulitzer mengakuisisi surat kabar New York World. Setelah dikelolanya, surat kabar yang semula telah mengalami defisit USD 40.000 berubah total dengan meraup untung sejumlah USD 346.000 dalam setahun. Hal ini bisa terjadi karena Pulitzer merombak habis-habisan arah pemberitaan surat kabar tersebut. Pulitzer mengisi New York World dengan sajian-sajian berita human-interest, skandal, gosip dan berita-berita sensasional lainnya di mana pada masa itu gebrakan ini belum dilakukan oleh media-media lain. Pada 1885, Pulitzer terpilih sebagai anggota DPR AS (House of Representatives). Namun sayangnya beberapa bulan kemudian ia mengundurkan diri. Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst.

Penghargaan/Hadiah Pulitzer

      Acara penganugerahan Pulitzer pertama kali digelar setahun setelah Joseph Pulitzer meninggal yaitu pada tanggal 4 Juni 1917. Ini merupakan warisan terpenting Pulitzer dalam dunia pers. Setiap tahun ada duapuluh satu jenis kategori penghargaan yang diberikan. Di mana duapuluh orang/pihak pemenang berhak atas uang sejumlah USD 10.000 dan sertifikat. Sedangkan pemenang utama mendapat medali emas. Pemenang utama biasanya bukanlah individu melainkan sebuah institusi pers (surat kabar).
















SEJARAH JURNALISTIK DI INDONESIA





Zaman Penjajahan Belanda

     Di Indonesia pers mulai dikenal pada abad 18, tepatnya pada tahun 1744, ketika sebuah surat kabar bernama “Bataviasche Nouvelles” diterbitkan dengan perusahaan orang-orang Belanda. Surat kabar yang pertama sebagai bacaan untuk kaum pribumi dimulai tahun 1854 ketika majalah “Bianglala” diterbitkan, disusul oleh “Bromartani” pada tahun 1885, kedua-duanya di Weltevreden, pada tahun 1856 “Soerat Kabar Bahasa Melajoe” di Surabaya. Sejak itu bermunculanlah berbagai surat kabar dengan pemberitaan bersifat informatif, sesuai dengan situasi dan kondisi pada zaman penjajahan itu.


Zaman Penjajahan Jepang

       Beralih ke masa penjajahan Jepang. Pers Indonesia mengalami kemajuan dalam hal teknis namun pada masa ini, surat izin penerbitan mulai diberlakukan. Surat-surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa Belanda banyak yang dimusnahkan. Penerbitan surat-surat kabar pun mulai ketat dibawa pengawasan Jepang. Surat-surat kabar yang terbit pada masa ini antara lain Asia raya(Jakarta), Sinar Baru(Semarang), Suara Asia(Surabaya), Tjahaya(Bandung).

      Walaupun pengawasan jepang yang begitu ketat dan mengekang namun ada pelajaran-pelajaran berharga untuk dunia jurnalistik Indonesia. Pengalaman karyawan-karyawan pers di Indonesia bertambah. Rakyat semakin kritis dalam menanggapi informasi-informasi yang beredar dan meluasnya penggunaan bahasa Indonesia. Ada pula UU no. 16 yang menunjukkan berlakunya sistem izin terbit dan sensor preventif yang meliputi semua penerbitan. Selain itu masih ada tindakan lain, yakni menempatkan shidooin (penasihat) dalam redaksi yang sebenarnya bertugas melakukan kontrol langsung. Bahkan tidak jarang, mereka juga menulis pada media tersebut.



Zaman Kemerdekaan

    Namun di era Revolusi(1945-1949) situasipun berubah. Perang perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dilakukan untuk menentang Belanda masuk lagi ke Indonesia.hal ini berpengaruh pada perkembangan Jurnalistik Indonesia. Pers terbagi kedalam 2 kelompok yakni pers Nica(Belanda) dan pers Republik (Indonesia). Pada masa ini, pers sering disebut sebagai pers perjuangan. Pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Beberapa hari setelah teks proklamasi dibacakan Bung Karno, terjadi perebutan kekuasaan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk pers.

Organisasi wartawan pertama yakni Persatuan Wartawan Indonesia lahir 9 Februari 1946.


Orde Lama

       Pembredelan pers banyak terjadi setelah berlakunya SOB (Staat van Oorlog en Beleg/ undang-undang negara dalam keadaan bahaya, 14 Maret 1957).

Beberapa media yang dibreidel pada masa itu adalah:

Suara Maluku di Ambon (15 Januari 1958);

Suara Andalas di Medan (30 Januari 1958);

Keng Po di Jakarta (21 Februari 1958);

Tegas di Kutaraja (25 Februari 1958);

Bara di Makassar (13 Maret 1958);

Pedoman di Jakarta (22 Maret 1958);

Kantor berita PIA, Indonesia Raya dan Bintang Minggoe di Jakarta (29 Mei 1958).


Penahanan terhadap wartawan pun banyak terjadi pada masa ini.

Kematian pers Indonesia ditandai dengan pemberlakuan Surat Izin Terbit (SIT) tanggal 1 Oktober 1957 oleh KODAM V Jakarta Raya.


Orde Baru

      Orde Baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Meski pada awal Orde Baru, pers sempat menikmati kebebasanya, namun pada era ini, kebebasan pers sangat terbatas, dan banyak terjadinya pembredelan media massa.

      Pada era ini muncul idiom Pers Pancasila yang dirumuskan dengan menggunakan idiom pers yang bebas dan bertanggung jawab. Peristiwa yang paling fenomenal pada saat itu adalah peristiwa Malari yang melibatkan pembredelan 12 media cetak. Kasus Malari yang terjadi pada 15 Januari 1974 itu mencatat begitu banyak korban jiwa dan kerusakan terjadi dimana-mana.

      Namun yang paling fenomenal sepanjang pembedelan media massa adalah pembredelan atau pencabutan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) sejumlah media massa, antara lain Majalah Tempo, deTIK, dan Editor. Ketiganya ditutup penerbitannya karena pemberitaan yang tergolong kritis terhadap pemerintah.


Orde Reformasi

    Kelahiran orde reformasi sejak pukul 12.00 siang kamis 21 mei 1998 setelah soeharto menyerahkan jabatan presiden kepada wakilnya BJ.Habibie, disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh rakyat indonesia. Terjadilah euforia dimana-mana. Kebebasan jurnalistik berubah secara drastis menjadi kemerdekaan jurnalistik. Departemen penarangan sebagai malaikat pencabut nyawa pers, dengan sertah mertah di bubarkan.

        Secara yuridis UUD pokok pers NO.21/1982 pun diganti dengan UU pokok pers NO.40/1999. Dengan undang-undang dan pemerintahan baru, siapapun bisa menerbitkan dan mengelola pers. Tak ada lagi kewajiban hanya menginduk kepada satu organisasi pers. Seperti di tegaskan pasal 9 ayat (1) undang-undang pokok pers NO.40/1999; setiap warga negara indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers. Pada pasal yang sama ayat berikutnya (2) ditegaskan lagi, setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum indonesia.

         Kewewenangan yang dimiliki pers nasional itu sendiri sangat besar. Menurut pasal 6 UU pokok pers NO.40/1999, pers nasional melaksanakan peranan : (a) memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, (b) menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia sertah menghormati kebhinekaan, (c) mengembangkan pendapat umum berdasrkan informasi yang tepat, akurat, dan benar, (d) melakkukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan (e) memperjuangkan keadilan dan kebenaran.



Referensi :

http://jurnalistikmadingsma.blogspot.com/2012/10/sejarah-jurnalisme-di-indonesia.html

http://www.asal-usul.com/2009/04/joseph-pulitzer-penghargaan-pulitzer.html

http://anggelinasinta.blogspot.com/2012/11/sejarah-dan-perkembangan-jurnalistik-di.html

http://jurnalistikmadingsma.blogspot.com/2012/10/sejarah-jurnalisme-di-indonesia.html

Senin, 29 Desember 2014

Bullying

Bullying !
(Opini Masyarakat)

Semua sepakat mengartikan bullying sebagai suatu tindakan yang mengganggu orang lain, bisa secara fisik, verbal, atau emosional. Bullying sering kali terlihat sebagai perilaku pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik ataupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih ”lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih ”kuat”.

Perbuatan pemaksaan atau menyakiti ini terjadi di dalam sebuah kelompok, misalnya kelompok murid di sekolah. Bisa saja bentuknya adalah tindakan memukul, mendorong, mengejek, mengancam, memalak uang, melecehkan, menjuluki, meneror, memfitnah, menyebarkan desas-desus, mendiskriminasi, dan lain sebagainya. Kini, bullying tidak hanya dapat dilakukan secara tatap muka, tetapi bisa lewat e-mail, chatting, internet yang berisi pesan-pesan yang menyinggung perasaan orang lain.


Bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang, suatu perilaku mengancam, menindas, dan membuat perasaan orang lain tidak nyaman. Tindakan ini dilakukan dalam jangka waktu sekali, berkali-kali, bahkan sering atau menjadi sebuah kebiasaan. Berarti, sebenarnya bullying adalah tindakan kekerasan yang tidak hanya terbatas terjadi di antara para murid di sekolah, siapa pun dan di mana pun dapat mengalami tindakan ini.


Dampak bagi korban 

Korban biasanya akan merasakan berbagai emosi negatif, seperti marah, dendam, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam, tetapi tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengembangkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. Bahkan, tak jarang ada yang ingin keluar dan pindah ke sekolah lain. Apabila mereka masih bertahan di situ, mereka biasanya terganggu konsentrasi dan prestasi belajarnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah. Dampak psikologis yang lebih berat adalah kemungkinan untuk timbulnya masalah pada korban, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, dan ingin bunuh diri.

Bahan Berbahaya Pada Snack


Bahaya Makanan RinganArtikel Investigasi)

Makanan ringan merupakan makanan selingan atau camilan. Makanan ini dikonsumsi disela-sela waktu dan bukan merupakan makanan pokok yang harus kita makan setiap hari secara teratur.
Dalam makanan ringan pada umumnya juga ditambahkan bahan-bahan lain misalnya monosodium glutamat (MSG) sebagai penyedap, bahan pengawet, bahan pewarna, bahan pemanis dan juga ditambahkan bahan anti pengempal yang biasanya ditambahkan pada minuman serbuk, dan bumbu snack. Bahan-bahan tersebut bila ditambahkan sesuai takaran yang disarankan tidak menjadi masalah tetapi bila diberikan tidak sesuai aturan, hal tersebut dapat membahayakan kesehatan.
Zat-zat dalam makanan ringan

Monosodium glutamat (MSG)

Monosodium glutamat (MSG) atau biasa disebut vetsin ditambahkan untuk memberikan rasa gurih yang sangat. Dalam hal penambahan MSG di dalam makanan ringan harus sesuai aturan. Menurut hasil penelitian dari lembaga pengawasan makanan di Amerika tahun 1995, batas aman MSG yang dapat dikonsumsi adalah kurang dari 2 gram sedangkan bila melebihi, dapat menyebabkan alergi. Kadar hingga 5 gram akan membahayakan bagi yang menderita asma. Untuk ibu hamil dokter juga menyarankan untuk tidak mengkonsumsi MSG karena dikuatirkan akan mempengaruhi perkembangan janin.

Bahan Pengawet 

Bahan pengawet juga ditambahkan dengan tujuan untuk memperpanjang daya simpan. Begitupun pemanis sintetik yang sering kita jumpai dalam makanan ringan, menimbulkan rasa manis dan dapat mempertajam penerimaan indera perasa terhadap rasa manis. Pemanis buatan yang sering dipakai adalah siklamat dan sakarin. Pemberian siklamat atau sakarin yang berlebihan akan menyebabkan radang tenggorokan. Kandungan ini dapat dirasakan dimana semakin tinggi konsentrasi pemanis bauatan, maka lidah akan terasa pahit dan getir.

Zat Pewarna

Zat Pewarna agar tampak semakin menarik. Karena kita tahu anak-anak akan lebih menyukai makanan ringan yang mempunyai warna yang menarik. Kita perlu curiga terhadap snack yang berwarna mencolok kemungkinan bisa saja snack tersebut diberi pewarna tekstil misalnya Rhodamine B untuk memberikan warna merah atau Methanil Yellow untuk memberikan warna kuning. Pemberian warna dengan pewarna tekstil sangat berbahaya bagi tubuh karena mengandung residu logam berat yang dapat mengakibatkan diare, alergi, bahkan kanker sampai rusaknya ginjal. Adanya pewarna terkstil pada makanan dicirikan dengan timbulnya rasa pahit dan bila menempel di tangan hanya dapat hilang bila dicuci dengan sabun.

Bahaya Makanan Ringan

Bahaya makanan ringan ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :

Tingginya kadar garam

Tingginya kadar gula

Tingginya lemak

Rendah serat

Mengandung bahan pengawet

Mengkonsumsi makanan ringan memang tidak ada salahnya.
Tetapi dalam memilih makanan ringan kita juga harus teliti dan berhati-hati. Semoga bermanfaat.

Referensi : http://natureherballife.blogspot.com/2012/03/bahaya-makanan-ringan.html

Kemah Yuk !

Kiat-kiat Berkemah
(Artikel Representatif)

Kali ini saya ingin mengajak anda berkemah, tapi tunggu dulu, berkemah tidak semudah yang anda bayangkan.
Ada beberapa hal yang perlu juga anda perhatikan, memang terlihat sepele, tapi PENTING !
Mari kita teliti bersama.
Yang pertama mulai dari tahap Persiapan.

Persiapan.

Sebelum kita berangkat menuju tujuan kemah, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya.

Mulai dari tempat atau tujuan kemana kita akan berkemah, ditempat yang seperti apa dan apa-apa saja yang mesti dipersiapkan dan perhatikan itu berbeda-beda tergantung dari tempat tujuan kita.

Demikian juga dengan mempersiapkan waktu, kapan kita akan berangkat, dan akan memakan waktu berapa lama jika kita berkemah di suatu tempat.

Selain tempat dan waktu, satu hal yang lagi yang sangat penting dalam tahap persiapan ini, yakni BIAYA. Berapakah yang harus kita butuhkan dan yang akan kita keluarkan selama kegiatan berkemah tersebut, mulai dari berangkat hingga kembali ke rumah masing-masing.

Peralatan juga sangat dibutuhkan dan harus di rencanakan dengan matang untuk bertahan hidup di alam. Bawalah barang-barang yang sekiranya sangat diperlukan, jangan sampai menambah beban barang bawaan anda.

Sebelum kita melakukan kegiatan ini, perlu adanya pemberitahuan atau laporan baik itu kepada penanggung jawab tempat tujuan kita, maupun keluarga kita sendiri, khususnya orang tua.

Setelah itu perlu dibentuknya panitia-panitia, agar segala sesuatu yang nanti dibutuhkan, tertata dengan benar dan teratur oleh orang yang tepat.

Diperlukannya susunan acara, agar kegiatan perkemahan tersusun dan terencana lebih jelas dan terdapat beberapa planning jika situasi dan kondisi berubah.

Siapkan kembali fisik dan mental anda sebelum berangkat, jangan lupa berdoa untuk berlindung dari segala hal yang tidak diinginkan.

Setelah tahap persiapan telah matang, tinggal pelaksanaannya.


Pelaksanaan.

Kegiatan hendaknya sesuai rencana, dilaksanakan menurut perkembangan keadaan dan diusahakan adanya acara pengganti atau tambahan, serta faktor pengamanan dan keselamatan peserta harus diperhatikan.

Penyelesaian.

Pembongkaran tenda-tenda, kebersihan lingkungan dan pengecekan barang harus dilaksanakan secara tertib.


Ada beberapa ilmu tambahan yang perlu diperhatikan demi keamanan dan kenyaman kita dalam berkemah.



Syarat-syarat memilih tempat berkemah adalah :

a. Tanahnya rata atau sedikit miring berumput.

b. Ada pohon pelindung.

c. Ada saluran pengeringan pembuangan air.

d. Dekat sumber air.

e. Terjamin keamanannya, terutama ancaman dari binatang buas, melata/ berbisa.

f. Tidak terlalu dekat dengan kampung dan jalan raya.

g. Tidak terlalu jauh dari pasar, pos kesehatan, pos keamanan.

h. Hindari angin masuk ke dalam tenda, dengan cara didirikan tenda membujur menurut mata angin.



Sumber : http://www.pramukanet.org/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=54#.VKGi314AGA

Semak Daun



Semak Daun adalah pulau yang terdapat digugusan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Pulau ini berjarak 3 jam dari Muara Karang Jakarta Utara dengan menggunakan kapal Ferry pengangkut wisatawan. Kapal ini beroperasi dua kali seminggu, dan dalam satu hari beroperasi hanya menyeberang pukul 07.00 WIB bertujuan ke Pulau Pramuka. Lalu kami melanjutkan perjalanan dari Pulau Pramuka menuju Pulau Semak Daun dengan menggunakan kapal motor.



Pulau Semak Daun terbilang pulau yang cukup kecil, yang hanya terdapat rumah life-guard. Disana tidak ada penginapan, pulau tersebut hanya untuk berkemah.
Kami pun mendirikan tenda disana.
Fasilitas di pulau tersebut terdapat kamar mandi umum dan warung yang menjual berbagai keperluan seperti Air bersih serta berbagai minuman dan snack.

Air lautnya jernih, pasirnya pun bersih dan tidak gatal.
Ombaknya pun sangat tenang, suasananya damai dan tidak gaduh.
Terdapat pohon-pohon mangrove dan berbagai macam jenis ikan dapat anda temui di pulau ini.

Sangatlah menyenangkan berlibur di Semak Daun, Kami sarankan untuk berkunjung ke Semak Daun jika anda ingin keluar sebentar dari kesibukan anda di Kota.

Jika anda berekreasi ke Kepulauan Seribu, jangan lupa singgah di pulau kecil nan indah dan damai ini.

Kamis, 16 Oktober 2014

The History Of Disneyland



DisneyLand
The History Of DisneyLand







The founder of DisneyLand is Walt Disney. He was inspired when he was visiting an amusement park named Griffith Park in Los Angeles with his daughters, Diane and Sharon. He wanted to make a place where adults and children could have fun together. He was influenced by some another amusement park such as World’s Columbian Exposition of 1893 in Chicago (his father worked at the Exposition, Midway Plaisance, Benton Harbor,  Eden Springs park. The draft of Disneyland was sent to Dick Kelsey (studio production designer) on August 31, 1948 known as “Mickey Mouse Park”.  
The initial concept, the Mickey Mouse Park, started with an 8-acre (3.2 ha) plot across Riverside Drive. He started to visit other parks for inspiration and ideas, including Tivoli Gardens in Denmark, Eftelinga in the Netherlands and Greenfield Village, Playland, and Children's Fairyland in the United States.

Difficulties in gaining funding prompted Disney to investigate new methods of fundraising, deciding to create a show named Disneyland. It was broadcast on then-fledgling ABC. In return, the network agreed to help finance the park. For its first five years of operation, Disneyland was owned by Disneyland, Inc., which was jointly owned by Walt Disney Productions, Walt Disney, Western Publishing and ABC. By 1960, Walt Disney Productions bought out all other shares, a partnership which would eventually lead to the Walt Disney Corporation's acquisition of ABC in the mid-1990s. In 1952, the proposed project had been called Disneylandia, but Disney followed ABC's advice and changed it to Disneyland two years later, when excavation of the site began. Construction began on July 16, 1954 and cost $17 million to complete. The park was opened one year and one day later.

Disneyland was dedicated at an "International Press Preview" event held on Sunday, July 17, 1955, which was only open to invited guests and the media. The following day, it opened to the public, featuring twenty attractions. The Special Sunday events, including the dedication, were televised nationwide and anchored by three of Walt Disney's friends from Hollywood: Art Linkletter, Bob Cummings, and Ronald Reagan. ABC broadcast the event live, during which many guests tripped over the television camera cables.

When Disney started to read the plaque for Tomorrowland, he read partway then stopped when a technician off-camera said something to him, and after realizing he was on-air, said, "I thought I got a signal", and began the dedication from the start.

The first person to buy a ticket and enter the park was David MacPherson with ticket number 2, as Roy O. Disney arranged to pre-purchase ticket number 1 from Curtis Lineberry, the manager of admissions. However, an official picture of Walt Disney and two children, Christine Vess Watkins (age 5) and Michael Schwartner (7), inaccurately identifies them as the first two guests of Disneyland. Both received lifetime passes to Disneyland that day, and MacPherson was awarded one shortly thereafter, which was later expanded to every single Disney-owned park in the world. Approximately 50,000 guests attended the Monday opening day.
In 1990s, iniciated to expand the one-park and one hotel property. The Disneyland Park, known as part of the Disneyland Resort. At this time, the property saw the addition of the Disney California Adventure theme park, a shopping, dining and entertainment complex named Downtown Disney, a remodeled Disneyland Hotel, the construction of Disney's Grand Californian Hotel & Spa, and the acquisition and re-branding of the Pan Pacific Hotel as Disney's Paradise Pier Hotel. At this time, the park was renamed as Disneyland Park to distinguish it from the larger complex under construction. Because the existing parking lot (south of Disneyland) was built upon by these projects, the six-level, 10,250-space Mickey and Friends parking structure was constructed in the northwest corner. At the time of its completion in 2000, it was the largest parking structure in the United States.


The park's management team during the mid-1990s was a source of controversy among fans and employees. In an effort to boost profits, various changes were begun by then-executives Cynthia Harriss and Paul Pressler. With the retail background of Harriss and Pressler, Disneyland's focus gradually shifted from attractions to merchandising. Outside consultants McKinsey & Company were brought in to help streamline operations, resulting in many changes and cutbacks. After nearly a decade of deferred maintenance, the original park was showing signs of neglect. Fans of the park decried the perceived decline in customer value and park quality and rallied for the dismissal of the management team.

Matt Ouimet, the former president of the Disney Cruise Line, was promoted to assume leadership of the Disneyland Resort in late 2003. Shortly afterward, he selected Greg Emmer as Senior Vice President of Operations. Emmer is a long-time Disney cast member who had worked at Disneyland in his youth prior to moving to Florida and held multiple executive leadership positions at the Walt Disney World Resort. Much like Walt Disney, Ouimet and Emmer could often be seen walking the park during business hours with members of their respective staff, wearing cast member name badges, standing in line for attractions, and welcoming guests' comments. In July 2006, Matt Ouimet left The Walt Disney Company to become president of Starwood Hotels & Resorts Worldwide.
The "Happiest Homecoming on Earth" was an eighteen-month-long celebration (held through 2005 and 2006) of the fiftieth anniversary of the Disneyland Park, also celebrating Disneyland's milestone throughout Disney parks worldwide. In 2004, the park underwent major renovations in preparation, restoring many classic attractions, notably Space Mountain, Jungle Cruise, the Haunted Mansion, Pirates of the Caribbean, and Walt Disney's Enchanted Tiki Room. Attractions that had been in the park on opening day had one ride vehicle painted gold, and the park was decorated with fifty Golden Mickey Ears. The celebration started on May 5, 2005 and ended on September 30, 2006, and was followed by the "Year of a Million Dreams" celebration, lasting twenty-seven months and ending on December 31, 2008.
Beginning on January 1, 2010, Disney Parks hosted the Give a Day, Get a Disney Day volunteer program, in which Disney encouraged people to volunteer with a participating charity and receive a free Disney Day at either a Disneyland Resort or Walt Disney World park. On March 9, 2010, Disney announced that it had reached its goal of one million volunteers and ended the promotion to anyone who had not yet registered and signed up for a specific volunteer situation.




Reference:
www.justdisney.com/disneyland/history.html